CyberNKRI.Com – Di tengah menguatnya kedaulatan ekonomi dalam negeri, jagat media sosial baru-baru ini diguncang oleh kemunculan narasi negatif bermotif ekonomi global. Isu bertajuk Tagar #SellIndonesia sengaja ditiupkan oleh sejumlah pihak dan forum ekonomi asing yang berbasis di Singapura. Narasi tersebut mencoba membangun sentimen buruk pasar internasional seolah-olah iklim investasi Indonesia sedang berada dalam bahaya pasca peluncuran berbagai kebijakan berdikari era Presiden Prabowo Subianto.
Namun, serangan psikologis pasar (market sentiment attack) ini segera menuai kontra narasi masif dari dalam negeri. Alih-alih tertekan, publik, warganet, hingga para petinggi ekonomi nasional justru bersatu membalikkan keadaan lewat gerakan kedaulatan digital.
Upaya Destabilisasi yang Mengada-ada
Munculnya gerakan kontra narasi ini didasari oleh kesadaran bahwa tagar Sell Indonesia merupakan instrumen tekanan geopolitik Barat yang menyusup lewat hub finansial regional. Negara-negara maju ditengarai cemas terhadap kebijakan nasionalistik Indonesia, terutama pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (PTDSI) dan PP Nomor 24 Tahun 2026 tentang Ekspor Satu Pintu. Aturan ketat ini secara otomatis menutup celah manipulasi pajak internasional (under-invoicing dan transfer pricing) yang selama ini memarkir keuntungan komoditas SDA Indonesia di luar negeri, termasuk Singapura.
Membaca taktik tersebut, masyarakat menilai kampanye hitam asing ini mengada-ada dan bertujuan menciptakan kepanikan pasar modal domestik secara sengaja.
Serbuan Balik Warganet: #SellSingapore dan #BuyIndonesia
Sebagai bentuk perlawanan nyata, gelombang nasionalisme digital langsung pecah di platform X (Twitter) dan Instagram. Netizen Indonesia kompak menggaungkan tagar tandingan, yaitu #SellSingapore dan #BuyIndonesia.
Melalui gerakan ini, publik diajak untuk:
- Mengurangi Ketergantungan: Mengurangi penggunaan produk, jasa logistik, maupun layanan finansial yang terafiliasi kuat dengan korporasi Singapura.
- Mendukung Produk Domestik: Mengalihkan perputaran uang ke pasar lokal melalui penguatan kampanye belanja produk dalam negeri (Buy Indonesia).
- Menjaga Kepercayaan Pasar: Menyebarkan data valid mengenai kekuatan fundamental ekonomi nasional guna menangkal kepanikan bursa.
Pembuktian Fakta: Investor Global Justru Mengantre
Merespons dinamika pasar tersebut, Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Keuangan Purbaya secara tegas mematahkan isu miring tersebut. Berdasarkan data resmi kementerian, fundamental ekonomi makro Indonesia tetap berada dalam posisi yang sangat solid.
Pemerintah membuktikan fakta kontra narasi dengan realisasi obligasi perdana Danantara yang langsung habis terjual (oversubscribed), mencatatkan permintaan investor asing yang fantastis hingga 4,6 miliar dolar AS. Presiden Prabowo menegaskan bahwa penataan regulasi hukum satu pintu ini justru menciptakan kepastian investasi jangka panjang yang sehat, terbukti dari antrean panjang korporasi global yang tetap ingin menanamkan modalnya di tanah air.
