CyberNKRI.Com – Kebijakan Pemerintah Indonesia memusatkan ekspor komoditas strategis melalui satu pintu BUMN PT Danantara Sumber Daya Indonesia (PTDSI) menuai sorotan luas. Namun secara global, model tata kelola niaga tunggal yang dikendalikan negara—atau dikenal sebagai State Trading Enterprises (STE) dengan sistem single-desk exporter—bukanlah hal baru. Sejumlah negara maju dan berkembang telah lama menerapkan skema serupa untuk mengamankan pendapatan negara dan memperkuat posisi tawar di pasar internasional.
Berkaca pada peta perdagangan dunia, berikut adalah tiga entitas raksasa di negara lain yang memiliki karakteristik operasional sejenis dengan PTDSI:
1. COFCO Group (Tiongkok)
Sebagai raksasa ekonomi dunia, Tiongkok menerapkan kontrol ketat pada komoditas pangan dan agrikultur strategisnya melalui COFCO Group (China National Cereals, Oils and Foodstuffs Corporation). BUMN raksasa ini memegang monopoli dan hak eksklusif dalam mengelola arus ekspor dan impor biji-bijian, minyak goreng, hingga gula. Mirip dengan mandat PTDSI dalam memotong rantai manipulasi harga, COFCO berfungsi menjaga ketahanan pangan nasional, menetapkan standardisasi harga, serta menjadi ujung tombak Tiongkok dalam menghadapi persaingan dagang dengan korporasi multinasional Barat.
2. Equinor (Norwegia)
Di sektor energi dan sumber daya alam terpusat, langkah Indonesia mengonsolidasikan komoditas batu bara dan kelapa sawit menyerupai strategi sukses Norwegia melalui Equinor (sebelumnya bernama Statoil). Pemerintah Norwegia memegang saham mayoritas di perusahaan ini untuk mengendalikan penuh produksi dan pemasaran minyak bumi serta gas alam dari wilayah mereka. Hasil keuntungan ekspor satu pintu ini dialirkan secara transparan ke Government Pension Fund Global (dana abadi negara), yang kini menjadi salah satu dana kedaulatan (sovereign wealth fund) terbesar di dunia demi menjamin kemakmuran jangka panjang rakyatnya.
3. MMTC Limited (India)
India mengelola komoditas mineral, logam, dan batu bara berharga melalui MMTC Limited (Metals and Minerals Trading Corporation). MMTC ditunjuk oleh pemerintah India sebagai lembaga kanal utama (canalizing agency). Artinya, entitas swasta tidak dapat mengekspor atau mengimpor jenis mineral tertentu secara bebas tanpa melalui persetujuan dan dokumentasi terpusat MMTC. Langkah ini diambil India demi memastikan devisa perdagangan luar negeri tercatat akurat dan mencegah pelarian modal ke luar negeri, sejalan dengan ambisi pembentukan PTDSI.
Sejarah mencatat bahwa beberapa negara maju seperti Kanada dan Australia juga sempat mendominasi pasar dunia lewat badan monopoli serupa, seperti Canadian Wheat Board (CWB) untuk komoditas gandum, sebelum akhirnya diliberalisasi akibat tekanan WTO. Keberhasilan tata kelola PTDSI ke depan akan sangat bergantung pada adaptasi teknologi, transparansi, serta kemampuannya meminimalkan hambatan birokrasi di pelabuhan.
