Iran's Parliamentary Speaker Mohammad Bagher Qalibaf, right, meets Pakistan's Army Chief Field Marshal Asim Munir in Tehran, Iran, Thursday, April 16, 2026. (Hamed Malekpour/ICANA via AP)
CyberNKRI.Com – Suasana di ibu kota Iran, Teheran, dilaporkan mengalami perubahan signifikan usai pengumuman gencatan senjata. Berbeda dari tradisi sebelumnya yang menggelar aksi pada malam hari, masyarakat kini turun ke jalan pada siang hari untuk melakukan pawai dan salat istighasah. Fenomena ini disertai dengan pameran rudal di ruang publik sebagai simbol dukungan terhadap kekuatan militer negara.
Solidaritas Domestik dan Kekuatan IRGC
Dukungan publik terhadap pemerintah Iran dilaporkan mencapai titik tertinggi. Tercatat lebih dari 30 juta warga telah mendaftarkan diri sebagai relawan, siap dimobilisasi jika konflik kembali memanas.
Sementara itu, bertepatan dengan hari jadinya pada 22 April 2026, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengeluarkan pernyataan tegas:
-
Operasi Militer: Mengklaim telah melancarkan sekitar 100 gelombang serangan rudal dan drone yang berdampak besar pada infrastruktur lawan.
-
Dukungan Publik: Menilai aksi solidaritas masyarakat selama 50 hari terakhir sebagai faktor kunci yang memperkuat posisi tawar Iran.
-
Posisi Diplomasi: Pemerintah Iran menegaskan tidak akan melanjutkan perundingan dengan Amerika Serikat, karena menilai proposal yang ada hanya menguntungkan pihak Barat.
Perspektif Eropa: Polarisasi dan Ancaman Krisis Energi
Kondisi di Timur Tengah memicu reaksi beragam di Eropa. Laporan dari warga di Inggris menunjukkan adanya keterbelahan opini publik antara kelompok yang mendorong jalur diplomasi damai dengan mereka yang mendukung kebijakan keras blok Barat.
Risiko di Selat Hormuz
Kekhawatiran utama saat ini tertuju pada stabilitas Selat Hormuz. Sebagai urat nadi distribusi energi dunia, gangguan berkepanjangan di jalur ini diprediksi akan:
-
Memicu krisis pasokan energi yang fatal di daratan Eropa.
-
Meningkatkan risiko keterlibatan militer Inggris lebih jauh, meskipun saat ini pemerintah setempat berdalih hanya fokus pada pengamanan jalur pelayaran.
Kesiapan Iran untuk menghadapi eskalasi lanjutan dan penolakan terhadap dialog dengan AS menandakan bahwa stabilitas kawasan masih berada dalam posisi yang sangat rapuh.
